Cekberitanya - Beredarnya foto wajah yang disebut sebagai pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, dipastikan tidak benar. Kepolisian menyatakan gambar tersebut merupakan hoaks yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menegaskan bahwa foto yang beredar luas di media sosial tersebut bukanlah identitas pelaku yang sebenarnya. Hasil analisis sementara menunjukkan gambar tersebut merupakan hasil rekayasa digital yang sengaja dibuat untuk menyesatkan informasi yang berkembang di publik.
Polisi menduga penyebaran gambar tersebut merupakan bagian dari upaya pihak tertentu untuk mengganggu proses penyelidikan yang tengah dilakukan aparat penegak hukum. Penyebaran informasi palsu ini dinilai berpotensi mengaburkan fakta serta mempersulit proses pengungkapan pelaku sebenarnya.
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus sendiri terjadi pada pertengahan Maret 2026 di Jakarta. Andrie Yunus yang menjabat sebagai Wakil Koordinator KontraS mengalami luka bakar pada bagian wajah dan tangan setelah disiram cairan keras oleh pelaku tak dikenal. Peristiwa tersebut memicu kecaman dari berbagai pihak dan mendorong aparat kepolisian untuk melakukan penyelidikan intensif.
Dalam proses penyelidikan, kepolisian mengumpulkan berbagai bukti digital, termasuk rekaman kamera pengawas (CCTV) dan informasi dari para saksi. Analisis terhadap bukti-bukti tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku serta mengungkap motif di balik serangan tersebut.
Di tengah proses tersebut, munculnya foto wajah yang diklaim sebagai pelaku di media sosial dinilai dapat memicu kesalahpahaman di masyarakat. Oleh karena itu, polisi mengimbau publik untuk tidak mudah mempercayai ataupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa proses penyelidikan akan dilakukan secara profesional dan berbasis bukti ilmiah. Aparat berharap masyarakat dapat menunggu hasil penyelidikan resmi serta tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tersebut saat ini masih terus didalami oleh aparat kepolisian. Selain mengusut pelaku utama, penyidik juga menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam penyebaran informasi palsu yang beredar di ruang digital.