Beberapa unggahan di Facebook akhir Desember 2025 viral dengan narasi bahwa apa yang disebut chemtrail, jejak kimia yang konon disemprotkan pesawat di udara, menjadi penyebab banjir besar yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera. Narasi tersebut mengaitkan fenomena garis putih di langit dengan dugaan penyebab perubahan cuaca yang ekstrem.
Namun, klaim ini tidak benar. Hasil pemeriksaan oleh tim cek fakta serta klarifikasi dari berbagai sumber menunjukkan bahwa istilah chemtrail merupakan bagian dari teori konspirasi belaka tanpa bukti ilmiah yang valid. Tidak ada data atau publikasi ilmiah yang mendukung bahwa jejak pesawat mengandung zat yang menyebabkan banjir atau perubahan iklim ekstrem.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa garis putih yang terlihat di langit sebenarnya adalah contrail (condensation trail atau jejak uap air dari pesawat terbang) yang terbentuk secara alami saat uap air dari mesin bertemu udara dingin di lapisan atas atmosfer. Fenomena ini umum terjadi dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
Selain itu, para pakar iklim dan lingkungan menekankan bahwa penyebab utama banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah kombinasi curah hujan ekstrem, kerusakan hutan, dan hidrometeorologi, bukan unsur penyemprotan kimia di udara. Kerusakan ekologis seperti hilangnya tutupan hutan membuat tanah kurang mampu menyerap air, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga telah memasukkan klaim soal chemtrail ini dalam daftar hoaks, mengimbau masyarakat agar lebih kritis terhadap unggahan yang menggunakan istilah sensasional tanpa dukungan data ilmiah dan sumber resmi.
Sumber:
https://jalahoaks.jakarta.go.id/detail/Hoaks-Chemtrail-Penyebab-Banjir-Sumatera?
https://klinikhoaks.jatimprov.go.id/post/chemtrail-penyebab-banjir-sumatra-69463c3c26e4d?