Sebuah unggahan yang menyebar di media sosial Facebook sejak akhir Desember 2025 memuat narasi yang menyesatkan: seolah-olah Tentara Nasional Indonesia (TNI mundur dari konfrontasi dengan warga negara China karena menyatakan China sangat berjasa bagi Indonesia [facebook]. Unggahan tersebut juga menampilkan foto Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Freddy Ardianzah, seolah mendukung klaim tersebut. Namun, pemeriksaan fakta menunjukkan informasi ini tidak benar.

Unggahan yang diposting oleh akun “Akbarul Isnandi” pada 29 Desember 2025 memuat narasi yang menyebutkan TNI memilih mundur bukan karena takut tetapi karena mengakui jasa China kepada Indonesia. Hingga Selasa (13/1/2026), unggahan ini telah mendapatkan ribuan tanda suka dan komentar serta ratusan kali dibagikan ulang oleh netizen.
Namun hasil penelusuran tim pemeriksa fakta mengungkapkan bahwa foto yang disertakan dalam unggahan itu tidak ada kaitannya dengan klaim tersebut. Foto yang menampilkan Kapuspen TNI Mayjen Freddy Ardianzah sebenarnya berasal dari laporan media tentang geladi bersih peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-80 [Kompas.com]. Dalam konferensi pers yang menjadi sumber foto tersebut, Ardianzah tidak pernah menyampaikan pernyataan apapun mengenai mundurnya TNI atau menyebut jasa negara tertentu, termasuk China.
Selain itu, gambar lain yang dilampirkan dalam unggahan itu yang diduga menunjukkan warga negara China justru merupakan foto lama yang memperlihatkan puluhan tenaga kerja asing asal China yang pulang melalui Bandara Sultan Babullah di Ternate Utara pada Mei 2021 [Gambar]. Foto tersebut tidak terkait dengan isu apa pun tentang konflik atau konfrontasi militer dan sudah beredar jauh sebelum klaim diunggah.
Berdasarkan pemeriksaan faktual ini, tidak ada bukti yang mendukung klaim bahwa TNI pernah menyatakan mundur karena merasa China “sangat berjasa bagi negara Indonesia”. Konten yang tersebar tersebut termasuk dalam kategori informasi yang menyesatkan (misleading content), karena meletakkan konteks yang salah pada foto dan narasi untuk menciptakan kesan yang keliru.
Penting bagi masyarakat untuk selalu memverifikasi konten yang beredar di media sosial, terutama yang memuat klaim sensasional tentang institusi keamanan negara. Pemeriksa fakta seperti Cekberitanya bekerja untuk mengurai klaim yang salah tersebut dengan merujuk pada sumber yang dapat diverifikasi.